Matahari, Kegelapan, Bintang, Bulan, Awan, Petir dan Hujan


Hai terik yang menerangi sehingga bumi terlihat indah oleh sinaranmu, terik siapakah temanmu dalam menemani pekerjaanmu untuk menghasilkan sinar tersebut. Matahari “hai matahari kenalkan aku adalah kegelapan, semua orang membenciku, padahal tidak semua kegelapan bernilai negatif, tidak selamanya kegelepan itu adalah malapelataka, namun adakalanya kegelapan sangat didambakan. Tapi mereka tidak menyadari itu. Matahari boleh kita berteman, boleh kita kapan-kapan tukaran posisi, agar pekerjaanmu lebih ringan. Boleh ya matahari agar aku juga diakui bahwa aku juga bernilai sama seperti kamu. “Baiklah kegelapan aku dengan senang hati, karena sesungguhnya aku terkadang letih juga dengan pekerjaan ini”.
                Kegelapan mulai melakukan tugasnya pada waktu yang ditentukan. “Takut” manusia satu. “Gelap sekali” manusia dua, “aduh sudah gelap” manusia tiga. “apakah aku sungguh begitu membawa petaka bagi mereka, sebagian besar dari mereka tidak senang akan kehadiraku. Tiba saatnya tugas matahari. “Indah sekali hari ini manusia satu, “semangat baru” manusia dua, “i’m so happy” manusia tiga. Melihat keterlibatan matahari dalam kehidupan berbeda dengan kegelapan. Kegelapan lantas tidak berkecil hati dia mengadakan kolaborasi dengan sinar yang bisa terang pada malam hari yaitu bintang dan bulan. “Hai bintang dan Hai bulan” sapa si kegelapan. “Hai juga” balik sama keduanya. Aku ingin menanyakan kesediaan kalian pada satu hal, dengan penjelasan yang cukup singkat, si bintang dan si bulan akhirnya mengerti. “Baiklah kegelapan kami akan siap membantumu mendengar ceritamu membuat kami sangat ingin berperan agar kamu diakui oleh manusia-manusia di bumi.
                Tugas hari pertama adalah bintang, berkelip-kelip di atas langit sehingga hiasan langit semakin indah. “Wah cantiknya” manusia satu. “Bintang-bintang temani aku tidur ya” manusia dua. Bintang jangan cepat menghilang ya” manusia tiga. Tugas hari berikutnya si bulan. “Bulannya terang sekali” manusia satu, “Oh bulan sampaikan salamku pada si dia (kekasih)” manusia dua, “sinaran mu memiliki makna” manusia tiga. Kegelapan terharu karena manusia-manusia tidak meremehkan dia lagi. Walaupun tidak ada kalimat pengakuan bahwa mereka menyukai kegelapan tapi melihat manusia senang karena pada waktu si kegelapan bertugas manusia semakin senang.
                Bertemulah di suatu pertemuan penting si matahari dan si kegelapan, “bagaimana ini pan mereka terlalu senang dengan sinaran ku bahkan mereka tidak segan-segan merukan lapisan ozonku. Aku tak tahan dengan perlakuan mereka. Kalau begini terus bumi ini bisa hancur pan. Aku tidak bisa tinggal diam pan aku harus mengundang si hujan pada sang hari. Supaya ada efek jera bagi mereka. Si matahari bergegeas menjumpai awan untuk menanyakan keberadaan si hujan, dan ternyata si hujan lagi ada rapat penting dengan si petir. “Ada apa matahari kenapa kamu terlihat sedih” tanya si hujan. “Wan.. Tir Kalian lihat kebawa apa yang manusia-manusia lakukan” penjelasan si matahari.  “wah kebetulan sekali matahari kami juga sedang membahas itu, karena sesungguh kami juga terkena dampaknya” penjelasan kembali si awan. Karena si matahari sudah sangat kecewa dengan manusia-manusia dengan siasat rencana mereka yaitu menurunkan hujan disertai petir yang menyambar. “Tir..Tir..Tir..Tir” suara petir menyambar”, “takut manusia satu”, “semoga aku tidak kenapa-kenapa” manusia dua. “Bagaimana aku bisa pulang hujannya sangat deras dan petirnya juga menyambar terus” manusia tiga.
                Mahatari tidak kuasa melihat manusia-manusia menderita ketakutan akhirnya mahatari menjumpai si hujan dan si petir. “Wahai teman-temanku sudah cukup lah itu semua aku tidak kuasa dengan jeritan mereka. Aku berharap setelah ini mereka jerah, dan sekarang hentikan petir dan hujannya, karena aku akan menyinari kembali”. Manusia-manusia kembali sumringwah melihat indahnya pancaran sinar oleh si matahari. Tapi si manusia tetap melalukan hal yang sama terhadap si matahari, kalau matahari tak tahan dengan perlakuan mereka dia pasti menjumpai si petir dan si hujan. Begitulah siklus seterusnya sampai bumi ini di obrak abrik oleh manusia yang tidak bertanggung jawab. Sekian dan Terima kasih

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Upaya Solutif Menangani Anemia Pada Usia Anak Melalui Brownies Ternutrisi Baworma (Bayam Wortel Mangga)

Pengalaman Pertama itu Harapan II

Memulai yang tertunda